Minggu, 05 Maret 2017

LANDASAN TEORI



Buah Symplocos,Sp (Lobha)
Jika kita mempelajari pewarna alami tentunya tidak dapat dipisahkan dengan Tenin. Tenin adalah suatu bahan yang berasal dari tumbuhan yang biasanya diambil dari Eksrak bagian pepagan, daun, buah dan puru (galf) untuk keperluan penyamakan, ekstrak-eksrak itu dapat digunakan langsung atau dalam bentuk  yang dipekatkan dengan jalan mengekstrak kembali bahan teninnya. Tenin juga dapat digunakan sebagai perekat, bahan pewarna, dan penguat (mordan) misalnya dalam pembuatan kayu lapis dengan memanfaatkan tenin proantosianidin sebagai pengganti fenol sintetik yang produksinya sangat tergantung pada harga minyak bumi (Lemmens dkk, 1999).
Menurut Lemmens dkk, bahan pewarna alami dapat diperoleh dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti: warna merah dari bagian akar (Rubia cordifolia L.), warna kuning jingga dari curcuma longa L. Resin-gom pada pepagan Garcinia hanbunyi hook.f. warna kuning dari kayu secang daun tarum, buah (kesumbah), buah pewarna hitam lembayung dari termelia belirica. Fungsi bahan yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna di dalam bagian tumbuhan tergantung pada struktur kimia dan letaknya pada tumbuhan yang dipengaruhi oleh klorofil yang terlibat dalam rangka konservasi cahaya dalam proses fotosintetis.
Pada umummnya golongan pigmen tumbuhan adalah kloropfil, karotenoid, flovonoid dan kuinon. Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarna tekstil dapat dikelompokan menjadi empat tipe menurut sifatnya:
·         Pewarna lagsung dari ikatan hidrogen dengan kelompok hidroksil dari serat, pewarna ini mudah luntur contohnya kurkumin.
Bunga Syplocos,Sp (Lobha)

·         Pewarna asam dan basa yang masing-masing berkombinasi dengan kelompok asambasa wol dan sutra, sedangkan katun tidak dapat kekal warnanya jika diwarnai, contohnya pigmen – pigmen flavonoid.
·         Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada serat yang melalui proses redoks, pewarna ini seringkali memperlihatkan kekekalan yang istimewah terhadap cahaya dan pencucuian, contohnya Tarum.
·         Pewarna mordan yang dapat mewarnai tekstil yang telah diberi mordan berupa senyawa etal polivalen; Pewarna ini sangat kekal contohnya  alizarin dan morindin.
Dalam pencelupan dangan zat warna alam pada umumnya diperlukan pengerjaan mordanting pada bahan yang akan dicelup atau dicap dimana proses mordanting ini di lakukan dengan merendam bahan kedalam garam-garam logam seperti alamenium, besi, timah, atau crom. Zat-zat mordan ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga afinitas zat warna meningkat terhadap serat (N Wulijarni – Soecipto,1999).Hal ini sesuai dengan hasil penelitian perubahan sifat fisika dan kimia kain sutera akibat pewarna alami kulit akar mangkudu yang dilakukan oleh Tiani Hamid dan Dasep Mukhlis pada( 2005) menujukan bahwa penggunaan mordan dapat mengurangi kelunturan warna kain terhadap pengaruh pencucian. Hal ini menunjukan senyawa mordan mampu mengikat warna sehingga tidak mudah luntur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar