Domestikasi
dalam arti yang sederhana adalah merupakan suatu proses penjinakan tanaman dari
kehidupan liar kedalam lingkungan kehidupan manusia sehari-hari Tumbuhan dikatakan telah terdomestikasi
apabila sejumlah penampilannya mangalami perubahan dan tumbuhan tersebut
menjadi tergantung pada campur tangan manusia dalam pertumbuhan dan perbanyakan
keturunannya (Wikipedia Indonesia,2011)
Aten Forester Blog
Minggu, 05 Maret 2017
LANDASAN TEORI
![]() |
| Buah Symplocos,Sp (Lobha) |
Menurut
Lemmens dkk, bahan pewarna alami dapat diperoleh dari berbagai jenis
tumbuh-tumbuhan yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti: warna merah
dari bagian akar (Rubia cordifolia L.), warna kuning jingga dari curcuma longa
L. Resin-gom pada pepagan Garcinia hanbunyi hook.f. warna kuning dari kayu
secang daun tarum, buah (kesumbah), buah pewarna hitam lembayung dari termelia
belirica. Fungsi bahan yang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna di dalam bagian
tumbuhan tergantung pada struktur kimia dan letaknya pada tumbuhan yang
dipengaruhi oleh klorofil yang terlibat dalam rangka konservasi cahaya dalam
proses fotosintetis.
Pada umummnya
golongan pigmen tumbuhan adalah kloropfil, karotenoid, flovonoid dan kuinon.
Pewarna nabati yang digunakan untuk mewarna tekstil dapat dikelompokan menjadi
empat tipe menurut sifatnya:
·
Pewarna lagsung dari ikatan hidrogen dengan
kelompok hidroksil dari serat, pewarna ini mudah luntur contohnya kurkumin.
![]() |
| Bunga Syplocos,Sp (Lobha) |
·
Pewarna asam dan basa yang masing-masing
berkombinasi dengan kelompok asambasa wol dan sutra, sedangkan katun tidak
dapat kekal warnanya jika diwarnai, contohnya pigmen – pigmen flavonoid.
·
Pewarna lemak yang ditimbulkan kembali pada
serat yang melalui proses redoks, pewarna ini seringkali memperlihatkan
kekekalan yang istimewah terhadap cahaya dan pencucuian, contohnya Tarum.
·
Pewarna mordan yang dapat mewarnai tekstil yang
telah diberi mordan berupa senyawa etal polivalen; Pewarna ini sangat kekal
contohnya alizarin dan morindin.
Dalam
pencelupan dangan zat warna alam pada umumnya diperlukan pengerjaan mordanting
pada bahan yang akan dicelup atau dicap dimana proses mordanting ini di lakukan
dengan merendam bahan kedalam garam-garam logam seperti alamenium, besi, timah,
atau crom. Zat-zat mordan ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara
zat warna alam dengan serat sehingga afinitas zat warna meningkat terhadap
serat (N Wulijarni – Soecipto,1999).Hal ini sesuai dengan hasil penelitian
perubahan sifat fisika dan kimia kain sutera akibat pewarna alami kulit akar
mangkudu yang dilakukan oleh Tiani Hamid dan Dasep Mukhlis pada( 2005)
menujukan bahwa penggunaan mordan dapat mengurangi kelunturan warna kain
terhadap pengaruh pencucian. Hal ini menunjukan senyawa mordan mampu mengikat
warna sehingga tidak mudah luntur.
Budidaya LOBHA Symplocos sp (Pendahuluan)
Loba (Symplocos sp) merupakan
jenis Flora yang perlu di konservasi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Tumbuhan
ini biasa dimanfaatkan “mordant” (bahan garam logam untuk pengikat warna
alami), dalam proses pewarnaan kain tradisional di NTT.
Berkembangnya masyarakat perajin
tenun NTT menyebabkan permintaan akan daun di pasaran sangat tinggi. Pada umum
masyarakat mengumpulkan daun dan kulit lobha dari kawasan hutan saja. Belum ada
teknologi konservasi baik itu Insitu maupun Eksitu yang mendukung Domestikasi
Lobha menyebabkan tekanan yang serius pada jenis tanaman ini. Berdasarkan hal
tersebut di atas maka kelompok Tani Naa Ana melakukan observasi serta
identifikasi yang bertujuan untuk melaksanakan Konservasi baik insitu maupun
eksitu Lobha di habitat aslinya maupun dan melakukan upaya Domestikasi /
budidaya dengan ujicoba penanaman di lahan masyarakat serta melakukan
identifikasi jenisnya serta produktifitasnya sebagai acuan pemanfaatannya yang
lestari juga menggali data-data dan informasi mengenai aspek sosial ekonomi
yang meliputi tingkat pengetahuan dan
presepsi masyarakat serta prospek pasarannya.
Hasil usaha identifikssi
menunjukan bahwa dalam Kawasan Hutan dan
sekitarnya diwilayah Desa Mbo Bhenga
terdapat tanaman Lobha (Symplocos sp) pada tingkat Pohon , Tiang, dan Pancang.
Hal ini menunjukan bahwa di wilayah Desa Mbo Bhenga sangat berpotensi untuk di
kembangkan tanaman Lobha (Symplocos sp).
Hasil identifikasi jenis
menunjukan bahwa Lobha yang pakai atau
yang digunakan oleh para perajin tradisional di masyarakat Desa Mbo Bhenga ada
dua jenis yaitu Lobha manu (Symplocos faciculata) dan Lobha Wawi (Symplocos
chochisinensis).
Hasil identifikasi dari aspek
sosial dan ekonomi Tanaman Lobha menunjukan bahwa Pengetahuan masyarakat
tentang Lobha sudah ada sejak dahulu
secara turun temurun baik itu mengenai jenis pohonnya bagian tanaman yang di
gunakan sampai dengan
pemanfaatannya. Ada semacam harapan dari
masyarakat agar instansi terkait dapat memfasilitasi untuk mengembangkan
tanaman Lobha bukan hanya berkaitannya dengan tenun namun juga melalui
diversifikasi prodak dan juga teknologi domestikasinya / budi dayanya.
Kegiatan konservasi di luar
kawasan atau dilahan masyarakat sudah dilaksanakan sejak 2 tahun terakir untuk mendukung upaya pelestarian
tanaman Lobha di kawasan hutan Desa Mbo Bhenga dan sebagai upaya domestikasi /
budidaya sehingga yang diharapkan nanti untuk diperjual – belikan bukan lagi
hasil daun tanamn Lobha dari hutan alam atau kawasan hutan namun sudah merupakan prodak budidaya
sehingga konservasi dapat sejalan dengan pemanfaatanya demi kesejahtraan
masyarakat sekaligus melestarikan budaya tenun ikat masyarakat Ende – Flores –
NTT – maupun di luar NTT
Langganan:
Komentar (Atom)



